Sebelumnya saya mohon maaf karena dalam tulisan saya hanya sedikit menggunakan teori, atau text book . Karena kadang saya kesulitan menterjemahkan pengalaman saya dan logika berfikir saya kedalam teori. Atau mungkin kasarnya saya males baca, buku yang sifatnya teoritis, akan tetapi cerita yang saya sampaikan tidak lepas dari bgaiman kita bisa menghadapi masalah dengan menggunakan manajemen praktis.
Bulan Mei tahun 2009, saya ditugaskan oleh perusahaan untuk melakukan pembongkaran pupuk ZA dalam bentuk curah (tanpa kemasan karung) dengan jumlah sebanyak 11.000 ton, pupuk tersebut diserahkan pada PT. Pusri ditempatkan di tiga gudang.
Nama kapal pengangkut pupuk adalah MV AN DA, dengan dinakhodai oleh seorang berkebangsaan China, dan sebagian besar awak kapalnyapun berkebangsaan China. Pertimbangan kapal di bongkar di Banyuwangi adalah karena kedalaman laut dipelabuhan Meneng (sekarang Tanjungwangi) lebih dalam dari pada Tanjungperak, sehingga bisa disinggahi kapal dengan kapasitas besar.
Waktu itu, kapal terlambat beberapa hari, sehingga pembongkaran tidak boleh lebih dari 15 hari, karena kalau lebih PT. Pusri akan mengenakan finalty sebesar Rp. 300 juta. Oleh karena itu target minimal rata-rata pembongkaran adalah sebesar 800 ton per hari, dan dilakukan 22 jam kerja, istirahat hanya pada 6 pagi sampai jam 7 pagi dan jam 6 sore sampai jam 7 sore.
Hari pertama saya kerahkan seluruh kemampuan dan fasilitas yang ada, sehingga pada hari itu pupuk yang dibongkar mencapai 1.300 ton. Pada hari kedua dan seterusnya semakin berkurang, karena secara teknis lebih sulit dari hari pertama. Yaitu palka kapal semakin dalam, sehingga pupuk diambil lebh lama. Penysunan pupuk digudang semakin tinggi, sehingga penyimpanan lebih lama. Dan banyak lagi faktor yang mempengaruhi.
Lima hari sebelum jatuh tempo sisa pupuk dalam kapal tinggal 600 ton. Secara teknis seluruh pekerjaan pembongkaran bisa diselesaikan dalam dua hari. Artinya hubungan dengan PT. Pusri aman, karena tidak akan kena finalty. Akan tetapi Tuhan berkehendak lain. Sore hari turun hujan yang sangat lebat, dan yang paling membuat saya resah adalah hujan tidak pernah berhenti sampai akhirnya dua hari telah berlalu.
Saya berdiri diatas kapal sambil hujan-hujanan memohon kepada Tuhan agar hujan dapat berhenti setidaknya sampai pekerjaan selesai. Malam itu saya bertemu dengan seorang yang sering saya lihat nongkrong di pelabuhan. Dia tahu kegelisahaan saya, akhirnya dia cerita bahwa ada kenalan yang bisa mengalihkan hujan agar tidak turun disekitar pelabuhan.
Logika saya menolak, karena segala sesuatu harus dapat dicerna dengan akal sehat, akan tetapi disisi lain logika saya juga mengharuskan saya untuk menggunakan pawang hujan, kalau saya ingin menyesaikan pekerjaan tepat waktu.
Besoknya pawang hujan mulai bekerja, saya tidak tahu dan tidak mau tahu bagaimana cara kerjanya yang jelas hari itu memang cuaca cerah dan hujan tidak turun lagi. Apakah ini karena pekerjaan pawang hujan atau hanya kebetulan saya tidak tahu.
Tapi yang jelas adalah pekerjaan bisa diselesaikan dengan selamat sehari sebelum jatuh tempo, dan pada hari itu juga berita acara serah terima sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak, saya sebagai wakil dari penjual dan satunya dari penanggungjawab PT. Pusri.
Cerita ini bukan merupakan suatu acuan dalam penyesesaian masalah, akan tetapi mungkin saja suatu saat anda akan menghadapi dilema seperti yang saya alami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar