Kita juga sering melihat kecenderungan orang untuk melakukan usaha ketika melihat orang lain telah mendapatkan kesuksesan dalam menalankan usaha tersebut. Contohnya adalah ketika orang membuat usaha wartel, maka ribuan orang mengikutinya. Ketika Warnet pertama dikenal orang, banyak orang mendapat keuntungan besar dari usaha Warnet, tetapi banyak orang mengikutinya sehingga usaha warnet tidak lagi menguntungkan.
Saat ini harga singkong naik dari Rp. 300 menjadi Rp. 1.000 per kg, banyak orang bertanam singkong karena keuntungan mencapai Rp. 18 juta per hektar dengan modal hanya Rp. 6 juta. Akan tetapi apakah 6 bulan kemudian harga akan tetapi tinggi. Dengan semakin banyaknya orang menanam singkong, maka penawaran akan semakin besar sedangkan permintaan tetap. Artinya suplai akan lebih besar dari pada demand (penawaran akan lebih besar dari permintaan) berdasarkan hukum ekonomi, keadaan tersebut akan memicu harga jual akan turun.
Seorang usahawan sejati, dia akan menentukan waktu melakukan aktivitas usaha ketika dia memperkirakan bahwa pada saat sekarang atau waktu yang akan datang melihat bahwa permintaan akan lebih besar dari penawaran. Keteki itu terjadi usahawan sejati akan mempersiapkan diri untuk memulai usaha dengan keyakinan yang tinggi.
Bagi pengusaha pada umumnya mereka tidak bisa membuat prediksi tentang suplay dan demand, sehingga mereka ragu untuk menentukan timming yang tepat dalam memulai usaha. Mereka biasanya hanya berharap bahwa harga akan naik pada saat perusahaannya berproduksi.
Menentukan waktu harus analisa dan perhitungan yang tepat, dengan mempertimbangkan beberapa factor baik internal, eksternal maupun teknis. Sebagai contoh adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertanian jagung hibrida sebagai bahan baku pakan ayam, maka factor eksternal yang harus diperhitungakan adalah kita harus mengetahui kondisi produsen jagung terbesar di dunia yaitu Amerika Serikat.
Apabila terjadi gangguan yang akan mengakibatkan panen terganggu, maka dipastikan bahwa harga jagung akan melonjak tajam. Hal ini tidak serta merta akan menjadikan peluang yang baik, akan tetapi harus juga diperhitungkan secara teknis apabila kita menanam jagung hibrida di Indonesia.
Yang dimaksud secara teknis adalah kita harus memperhitungkan tingkat keberhasilan menanam jagung dihubungkan dengan kondisi alam pada lahan yang akan kita saat jagung kita tanam. Misalnya kondisi lahan kering karena musim kemarau, yang harus diperhitungkan adalah apabila kita harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyiram kebun, maka biaya tersebut harus lebih kecil dari pada keuntungan yang diperoleh dengan peningkatan harga jual.
Saya akan memberikan contoh usahawan yang bergerak dalam bidang pertanian, dia memperoleh keuntungan hingga ratusan juta rupiah dalam satu bulan. Karena dia mampu mengatur waktu memulai usaha disesuaikan dengan perkiraan suplay dan demand pada waktu sayuran tersebut panen.
Usahawan tersebut menanam sayuran pada lahan yang meunurut orang lain mustahil dapat ditanami tanaman jenis sayur. Karena jenis tanahnya liat, suhu udara tinggi, curah hujan rendah dan tidak memiliki sumber air untuk menyiram tanaman.
Langkah pertama adalah memperbaiki struktur tanah, sample tanah dibawa ke laboratorium untuk menentukan perlakukan yang optimal agar tanah tersebut dapat ditanami dengan sayuran dan mendapatkan hasil yang maksimal. Dari hasil laboratorium, tanah kekurangan unsur hara dan kadar keasamannya sangat tinggi. dengan menggunakan kapur pertanian (dolomite) sesuai dengan kebutuhan maka kadar keasaman menjadi normal. Untuk meningkatkan unsure hara, maka dipergunakan pupuk kandang yang jumlahnya cukup besar sehingga menjadikan tanah menjadi gembur dan cocok untuk ditanami sayuran.
Langkah kedua adalah membuat sumur bor untuk mendapatkan air yang cukup untuk menyirami sayuran yang ditanam. Air yang dihasilkan tidak terlalu banyak, sehingga perlu dibuat pola penyiraman yang efektif dan efisien. Caranya adalah penyiraman langsung di tujukan kepada akar tanaman dengan menggunakan pipa yang dilubangi tepat pada akar tanaman. Tanah ditutupi oleh plastic (mulsa) salah satu tujuannya adalah untuk mengurangi penguapan dan air langsung diserap tanaman. Dengan pola ini bisa menghemat air hingga 80 persen.
Dengan pola tersebut waktu penanaman sayuran tidak tergantung pada musin yang umumnya dilakukan oleh petani sayur lainnya. Sehingga waktu penanaman dapat dilakukan kapan saja.
Langkah terpenting adalah membuat prediksi kapan jenis sayuran langka dipasaran dan kapan sayuran tersebut membanjiri pasar. caranya adalah dengan melakukan pengamatan langsung pada sumber sayuran di seluruh Indonesia, seperti, Lembang, Pangalengan, Malang, Medan dan lain-lain. memang untuk kegiatan ini memerlukan biaya yang cukup besar, tetapi hasilnya jauh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan.
Harga sayuran berpluktuasi sesuai dengan jumlah pasokan sayuran tersebut dipasar. Buah tomat dalam keadaan pasokan tinggi harganya bisa hanya Rp. 400 per kg, sedangkan pada saat pasokan rendah, karena petani jarang yang panen tomat, harga bisa mencapai Rp. 7.000 per kg.
Begitupun dengan cabe, pada saat pasokan banyak harga terendah hanya Rp. 3.500 per kg, sedangkan pada saat pasokan sedikit harga cabe bisa mencapai Rp. 60.000 per kg.
Dengan lahan yang dikelola sebanyak 3 hektar maka pada saat panen diposisi harga yang tinggi pendapatan diperoleh sebagai berikut :
Dengan harga tomat Rp. 5.000 per kg dan setia hektar ditanami 18 ribu pohon,serta setiap pohon menghasilkan 3,5 kg buah tomat. Maka pendapatan sebesar Rp. 945 juta dari lahan sebanyak 3 hektar. Sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk setiap pohon dengan pola efektif, sebesar Rp. 1.000 per kg. dengan jumlah pohon sebanyak 54.000 pohon. Sehingga total biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp. 54 juta. Dengan demikian maka keuntungan yang diperoleh sebesar Rp. 891 juta untuk satu kali musim tanam (kurang lebih 3 bulan). Artinya keuntungan per bulan adalah sebesar Rp. 297 juta.
Begitupun dengan cabe perhitungannya tidak jauh berbeda. Sayuran yang ditanam hanya 3 jenis yaitu cabe, tomat dan terong. Ditanam secara bergantian disesuaikan dengan prediksi suplay dan demand sebagaimana telah saya jelaskan diatas.
Petani lain pada umumnya sering mengalami kerugian, karena :
1. Pertama mereka kekurangan informasi, sehingga tidak dapat memperkirakan harga jenis sayur pada saat panen kelak.
2. Kedua, modal yang dipergunakan terbatas, sehingga pada saat tanaman memerlukan tambahan modal, misalnya perlu membeli obat pembasmi hama pada saat tanaman diserang hama, modal tidak ada, sehingga tanaman dibiarkan begitu saja dan hasil panen berkurang.
3. Ketiga, penanaman tidak intensif sehingga rata-rata per pohon hanya menghasilkan 1 sampai 1,5 kg buah. Apabila biaya per pohon Rp. 800, maka biaya per kg buah adalah Rp. 533 sampai dengan Rp. 800.
4. Keempat, apabila harga tomat rendah hingga dibawah Rp. 533, maka petani tersebut akan mengalami kerugian.
Uraian diatas memberi gambaran bahwa setiap usaha yang dikelola dengan sungguh-sungguh dan selalu memperhatikan aspek optimalisasi, maka hasilnyapun akan sebanding dengan yang diharapkan. Bagi sebagain besar orang, usaha pertanian mengandung resiko yang besar, bahkan bank pun jarang yang mendukung usaha ini. Akan tetapi bagi usahawan sejati usaha pertanian memberikan peluang yang sangat besar, karena jika dikelola dengan baik, akan menghasilkan keuntungan yang jauh lebih besar dari usaha lain. Terima kasih, sukses selalu
Hormat saya,
Firdaus Hendrawan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar